For Who Wanna Be A Writer
Bismillah..
Teringat sebuah kalimat yang penulis baca dari majalah Annida entah edisi berapa penulis lupa.
“Jangan memikirkan apa yang akan Anda tulis, namun tulislah apa yang Anda fakir.” Kurang lebih seperti itu.
Ya, memang kita tak perlu memikirkan apa yang akan kita tulis (ini teruntuk para penulis atau yang ingin jadi penulis atau fesbukers yang ingin mengisi statusnya ). Memikirkan apa yang ingin kita tulis malah menjadikan kita bingung dan tak ketemu-ketemu dengan hal yang akan kita tulis, kita sibuk berfikir, berfikir lama, hingga yang keluar dari mulut kita :”gimana ni?” (Jawa: pie iki?), itu kalimat yang kita ucapkan sehingga kita tak mulai-mulai untuk menulis. Sedangkan ketika kita menuangkan apa yang sedang kita fikirkan, menulis itu akan menjadi mudah, akan mengalir bak air yang dari hulu menuju hilir, akan berjalan tanpa tersendat.
Sebenarnya banyak hal yang kita bisa kuak, hanya perlu kesabaran, kesabaran dalam proses. Banyak hal yang bisa kita kupas, banyak ide yang bertebaran, banyak kekreatifan yang bisa kita raih, hanya kitanya saja yang perlu menangkap hal-hal itu, pintar-pintarnya kita mengambil hal-hal itu. Kalau kita bisa menjadi yang pertama kenapa kita menjadi yang kedua?
Back to topic, apa yang kita fikirkan atau apa yang kita rasakan, atau hal-hal yang di sekeliling kita bisa kita diskripsikan menjadi sesuatu yang indah, enak dibaca dan eye catching. Untuk awal-awal tak usah muluk-muluk untuk menjadikan karya kita wah(tapi ya dioptimalakan menjadikannya yang bagus), semua ini pembelajaran, nikmati saja pembelajaran, hingga kita terbiasa dan kita menjadi bisa membuat karya kita menjadi wah. Dengan selipan-selipan metaphor, hiperbol, personifikasi, atau litotes, atau yang lainnya.
O iya jangan lupa untuk menulis dengan hati (hehe konotasi ini, jangan diartikan denotasi ), karena menulis dengan hati akan menjadi lebih mengena di hati pembaca
Dengan kita terbiasa melakukan hal atau aktivitas (kalau di sini sampelnya menulis), kita akan menjadi peka, bagaimana jika menggunakan kata ini, bagaimana jika menggunakan kata itu.
Don’t forget pula untuk selalu menambah perbendaharaan kata kita dengan membaca, membaca buku, majalah, Koran, atau media cetak lainnya.
Kamis, 17 Desember 2009
Menulis = Mengikat Ilmu
Bismillah..
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya
Ilmu itu bak binatang ternak, ketika tidak diikat dengan menuliskannya akan mudah hilang/lepas. Suatu kalimat motivatif yang sedikit diubah dari teks aslinya.
Mengajarkan pada kita bagaimana pentingnya aktivitas menulis itu, suatu aktivitas pengikatan ilmu, agar ilmu itu tak mudah hilang terkoyak zaman.
Mungkin tak banyak dari kita yang mempunyai otak penyimpanan yang super (dari sononya) sehingga tanpa aktivitas inipun sudah tertulis dalam dinding memorinya, namun itu minoritas, dan mayoritas adalah kita yang harus melaksanakan aktivitas ini. Jangan takut rugi dengan berlelah-lelah Anda menulis ilmu, namun rasakan kelak, pasti kita juga perlu catatan yang telah kita buat tersebut, entah untuk referensi atau lainnya.
Kadang jika siswa-siswa disuruh untuk mencatat jawabannya seperti koor yang kompak “aagrh”, padahal hal itu sangat membantu kita, mungkin ketika ada ulangan kita bisa memperlajarinya, dan ketika menulis itupun pasti satu, dua kata, atau lebih secara tak sengaja jadi nyantol (Jawa: melekat) di memori kita.
Ada pula yang ketika diperintah untuk menulis jadi senang (ini mah karena gurunya tidak hadir xixi), namun secara umum mereka akan mengusulkan untuk dicopi saja. (hmm, )
Banyak dari kita melakukan itu karena belum paham, sudah paham namun malas mengaplikasikan, atau belum tahu dan tak mau tahu. Sungguh, tugas bagi kita-yang sudah tahu- untuk memberi tahu bahwa aktivitas menulis itu merupakan aktivitas yang positif (hehe, disesuaika juga dhing, tergantung tulisannya apa ) dan menggalakkan aktivitas cinta menulis.
Alhmadulillah, nampaknya aktivitas menulis ini bisa berkembang selaras dengan kemajuan zaman (bukan jaman lho , lebih tepatnya kemajuan tekhnologi). Contohnya fesbuk, dari fesbuk kita jadi terangsang untuk membuat tulisan-tulisan atau catatan-catatan dan berlajar pula saling berkomen. Semoga kita bisa menyikapinya dengan arif, sehingga dari situ bisa melahirkan penulis-penulis handal yang siap menuju era globalisasi. (kayaknya nggak nyambung lagi deh xixi)
I think that is enough,.. keep blogging!!